“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
QS. Ar-Rum : 21
Awal cerita kami dimulai pada tahun 2022 ketika seorang rekan kerja yang bernama cunditia dia memperkenalkan sinri dengan sepupunya yang bernama Rizal. Siapa sangka perkenalan singkat itu tumbuh menjadi hubungan penuh cerita dan percakapan kecil di waktu itu menjadi jalan yang membawa kami pada ikatan suci hari ini.
Di antara wangi surabi hangat di Enhai dan hembusan angin lembut Tahura, Tuhan mempertemukan dua langkah yang tak pernah saling mencari, namun pelan-pelan dipertemukan oleh takdir. Pertemuan sederhana itu menjadi awal dari cerita panjang yang tak pernah kami bayangkan. Dari tatapan yang malu-malu, dari percakapan kecil yang tak berarti apa-apa saat itu, semesta mulai menenun kisah kami dengan benang-benang halus yang nyaris tak terlihat.
Hari-hari setelahnya dipenuhi pertukaran cerita kecil—tentang lelah, tentang tawa, tentang rutinitas yang kadang membosankan namun entah mengapa terasa hangat saat dibagikan. Meski ajakan untuk bertemu sering kali tak dapat Sinri penuhi, takdir tetap setia membuka jalan. Seolah semesta tahu bahwa ada dua hati yang sedang belajar memahami, meski belum sepenuhnya berani mendekat. Perlahan, tanpa terburu-buru, kedekatan itu tumbuh seperti pagi yang merekah tanpa suara.
Namun perjalanan kami tidak selalu cerah. Tahun 2023 datang membawa duka yang dalam—kehilangan seorang ayah, sosok yang menjadi cahaya bagi kami. Dari duka itu kami belajar bahwa cinta bukan hanya berbagi senyum, tetapi juga saling menopang saat langkah gemetar dan dunia terasa runtuh. Air mata mengajarkan kami tentang keteguhan; kehilangan mengajarkan kami tentang makna pulang. Di tengah pedih itu, kami menemukan bahwa hati yang tulus selalu tahu caranya bertahan.
Perlahan, waktu kembali menuntun kami pada lembaran baru. Setelah melewati bulan suci Ramadhan di tahun 2024, Rizal memantapkan hatinya untuk mengkhitbah Sinri. Bukan karena tergesa, bukan pula karena keadaan, melainkan karena keyakinan yang lahir dari perjalanan panjang: pertemuan yang sederhana, penantian yang sabar, ujian yang menguatkan, serta kasih yang diam-diam tumbuh namun tak pernah padam. Itulah hari ketika langkah kami mulai menemukan arah yang sama.
Dan akhirnya, pada pengujung tahun 2025 di saat tahun bersiap menutup tirainya kami memutuskan untuk menikah. Keputusan yang lahir dari hati yang telah ditempa waktu, dari rasa yang telah matang, dan dari doa yang tak henti-henti kami kirimkan di setiap sujud. Di antara akhir dan awal, kami memilih untuk saling menggenggam, melangkah menuju kehidupan baru yang semoga dipenuhi keberkahan dan kasih yang terus tumbuh.
Kini, dengan penuh syukur, kami bersiap menapaki bab baru yang Allah titipkan. Semoga rumah yang kami bangun kelak menjadi tempat paling teduh—tempat pulang dari segala lelah, tempat berbagi tawa, doa, dan cinta yang ingin kami jaga selamanya.
